May 25, 2022

Sleman, Kabar Jogja – Prof Chusnul Hidayat, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Teknologi Hasil Pertanian pada Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, Selasa (22/3) di Balai Senat UGM. 

Pada pidato pengukuhan tersebut Chusnul menyampaikan pidato berjudul Tantangan Pengembangan Produk dan Konsep Pengembangan Proses Pengolahan Hasil Pertanian dan Perkebunan.

Chusnul mengatakan pengembangan produk pangan yang berdampak pada aspek kesehatan menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan produk kedepan. Sebab, dalam beberapa dekade terakhir tidak sedikit penyakit yang muncul terutama penyakit tidak menular disebabkan kebiasaan makan dan tren produk makanan.

Selain masalah kesehatan, tantangan pengembangan produk kedepan adalah pengembangan bumbu masak alami (perisa) berbasis rempah.  

Indonesia memiliki makanan tradisional berbasis rempah yang beragam. Namun, persiapan dan penyajiannya relatif lebih lama. 

Sementara itu, generasi milenial cenderung menginginkan persiapan dan penyajian pangan yang cepat dan bisa dilakukan oleh setiap orang di rumah.

“Tantangan pengembangan produk di masa datang adalah pangan yang berdampak pada aspek kesehatan dan penyiapan pangan yang cepat di rumah,” tuturnya.

Guna menjawab persoalan itu, Chusnul menyebutkan perlu dikembangkan produk yang memiliki efek kesehatan yakni produk yang dikembangkan dari bahan kimia alami atau bahan lain dari pangan yang bisa dicerna yang  bermanfaat bagi tubuh manusia dalam mencegah penyakit (nutraceutical) dan pangan fungsional. 

Lalu, eksplorasi nutraceutical dan pangan fungsional bersumber pada komoditas lokal, utamanya komoditas perkebunan. Berikutnya, pengembangan produk flavor dan aroma alami berupa bumbu yang siap saji.

Untuk menghadapi  tantangan tersebut, lanjutnya, diperlukan pengembangan  teknologi  emulsi  dan enkapsulasi   yang   didukung   dengan   teknologi   surfaktan. 

Sementara itu,tantangan pengembanganproses adalah teknologi  pemisahan  bahan nutraceutical, teknologi  enkapsulasi dan emulsi, serta teknologi surfaktan.

Lebih lanjut Chusnul menjelaskan konsep  pengembangan  produk  dan  proses dimulai dengan pengembangan produk baru yang disukai konsumen dan diikuti dengan  pengembangan  proses. 

Adapun proses  harus  transparan, dan dikontrol  secara  otomatis  mulai  dari skala laboratorium sampai produksi. 

Selain itu, membuat desain proses yang efisien dan  perwujudan  desain  proses dapat  dilakukan melalui production line skala laboratorium.

Sistem kontrol otomatis, ditekankan Chusnul sudah  harus  diterapkan  pada  tingkat  laboratorium.  Tiap  unit  proses dikontrol menggunakan sistem kontrol untuk memudahkan scale-up.

“Peran institusi, seperti Magister Teknologi Hasil   Perkebunan   FTP   UGM, Pusat   Studi   Industri   Farmasi   dan Teknologi Kesehatan UGM dan institusi terkait lainnya sangat penting dalam hilirisasi produk baru nutraceuticaldan pangan fungsional,” pungkasnya. (rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published.