September 26, 2022

Sleman, Kabar Jogja – Akibat kecelakaan di masa kecilnya, Devita Amalia Anggraini (25) menjadi penyandang disabilitas tuna daksa. Namun hal itu tidak menyurutkan hasratnya menyelesaikan kuliah di Program Studi Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. 

Dia menjadi satu dari tiga wisudawan penyandang disabilitas yang pada Sabtu (26/2/2022) bersama 1.365 mahasiswa diluluskan. 
Kedua kaki Devita tidak imbang tumbuh panjangnya. Kondisi disabilitas kaki Devita hanya berada pada kaki kanan, sehingga kaki kiri masih dapat berjalan secara normal. 
“Awal usia sekolah dasar saya masih dapat berjalan tanpa alat bantu namun seiring pertambahan usia terdapat perbedaan panjang antara kaki kanan dan kiri. Saya berusaha mandiri dalam bermobilitas dengan motor yang dimodifikasi,” katanya lewat rilis Senin (28/2/2022).
Diterima melalui jalur seleksi mandiri ujian tulis, alumni SMKN 7 Yogyakarta memperoleh bantuan pendidikan dari suatu lembaga dikawasan tempat tinggalnya. 
“Saya bersyukur dan semakin percaya selalu ada jalan keluar selama kita yakin pada tindakan yang diambil. Lembaga tersebut selain memberikan saya bantuan finansial juga selalu memberikan bantuan psikologis seperti memberi semangat dan mendengarkan keluh kesah yang saya alami selama perkuliahan” katanya. 
Bantuan Pendidikan tersebut berhenti pada saat Devita berusia 22 tahun yang atas izin Allah kemudian memperoleh bantuan pada akhir semester tujuh. Devita memperoleh beasiswa Afirmasi Pendidikan Difabel yang membantunya dalam penyelesaian program studi. Beasiswa tersebut diperoleh selama 3 semester dan atas beasiswa tersebut ia tidak perlu memikirkan biaya untuk melunasi tagihan UKT yang termasuk golongan empat atau sejumlah Rp3,1 juta.
“Perasaan minder yang muncul terkadang adalah karena saya difabel. Namun saya tidak memiliki pengetahuan atau pengalaman mengenai difabel yang lain yang membuat saya merasa tidak mengetahui apapun tentang kondisi yang saya alami” ungkapnya. 
Berkat kuliah di Pendidikan Luar Biasa inilah Devita mengetahui dan memahami banyak hak-hak yang seharusnya diperoleh siswa yang mungkin pada saat sekolah harusnya memperoleh hak-hak itu. 
Dimana pada saat magang atau mengajar keberadaannya dapat menjadi motivasi siswa atau orang tua yang lain bahwa kondisi disabilitas itu hanya cangkang yang didalamnya ini kami ‘normal’ dan perlu memperoleh hak-hak yang sama, yang hanya perlu penyesuaian tertentu untuk dapat menjadi sama dengan orang lainnya. 
“Saya memiliki teman-teman yang dengan tulus berteman dengan saya tanpa memandang kondisi yang saya miliki, sehingga meskipun saya disabilitas dan bersekolah di sekolah umum saya dapat memperoleh pendidikan dan dapat bersosialisasi dengan teman teman yang lain tanpa masalah” paparnya. 
Devita mampu meraih indeks prestasi luar biasa dalam kelulusannya yaitu 3,5. Devita berharap kedepannya dapat segera memperoleh pekerjaan yang sesuai seperti masuk dapodik, ikut PPG dalam jabatan atau masuk PPPK. (Tio)

Leave a Reply

Your email address will not be published.